Sabtu, 26 Oktober 2013

Aku dan Kamu.

Kita Berdua Sama.

Kita tanpa sengaja memakai dresscode yang sama. Balutan warna hitam dan kuning, Oh tidak cuma kita rupanya. Malam ini juga. Gelap hitam dan kuning lampu petromaks hampir mati yang ada di ujung jalan ini. Hahaha, Bersukurlah kawan. Nasib kita sedikit lebih baik daripada petromaks. Kita masih hidup walaupun tak tau berapa lama lagi kita bisa bertahan menikmati perasaan semacam ini. atau setidaknya bertahan untuk tidak menjadi seperti petromaks pinggir jalan. Hampir Mati Sendirian.

Entah kenapa saat mengomentari petromaks itu, aku berfikir kalau Kamu ingin sedikit membela petromaks itu. Iya karena dia bercahaya bukan ? Atau karena dia mati-matian bersinar walau nyawanya hampir habis di pinggir jalan ?? Sudahlah.. Aku ingin mencabut nyawanya. Aku tak tega melihatnya bersinar sendirian disana. Setidaknya kita menyaksikannya mati. Bukankah itu lebih baik daripada mati tanpa seorangpun mengetahui ? atau Kamu punya usul lain, kawanku ?

 Iya, tak ku pungkiri kita masing masing membutuhkan cahaya. Aku, walaupun lebih suka gelap seperti ini aku butuh cahaya. Aku kehilangan cahaya di mataku, kata orang orang terdekatku. Kamu ? Apa kau bisa menangkap gambar jika tanpa cahaya ?

Aku berubah fikiran tentang lampu itu. Tak usah lah kita membunuhnya. Kita sudah terlalu banyak kehilangan cahaya. Apa yang terjadi pada kita kalau satu-satunya cahaya disini juga pergi ?. Kemarilah. Kan ku abadikan cahayanya dengan matamu.

Iya, Setidaknya, dengan itu, Kita masih punya cahaya.



Walaupun hanya potretnya saja.
Senin, 25 Februari 2013

Untuk Baret Jingga

Malam terakhir di Bumi Nanggala. Adalah malam kedua yang paling ku ingat setelah malam aku berjanji untuk percaya orang yang rela menungguku di luar sana. Dingin rintik hujan tak pernah sekhidmat ini. Upacara disinari bara api. Kami, dan barisan Tentara Kebanggaan Republik tercinta.

Upacara tradisi. Aku berada di Penjuru kanan saf ketiga. Baru kali ini aku tahu kalau air, angin dan api bisa berkolaborasi menjadi sebuah kesatuan yang sangat anggun. Dingin ? ah, aku tak peduli. Semesta punya peran sendiri dalam upacara ini.

Sebuah Hymne dinyanyikan, Aku merinding. Mataku memejam tanpa sengaja. Hanyut dalam lantunan Hymne yang diulang ulang dalam upacara. Seperti inikah TNI ?? Aku merasa sangat rendah, tiada apa-apanya.

Tugas bagi mereka adalah wujud bhakti, yang tanpa pamrih, tanpa peduli jasad hancur, tanpa peduli apakah dia akan gugur. Jiwanya takkan menyerah. Karena menjadi Prajurit adalah sebuah Kehormatan. Bukan Beban. Jadi disitulah kekuatan mereka berasal. Keikhlasan, Bhakti, dan Kehormatan yang mereka jaga.

Hormatku, Untuk TNI-AU di Bumi Nanggala.. Terimakasih untuk satu bulan yang kau berikan.


Kuberdiri di bawah panjimu sang Swa Bhuana Paksa
Kan ku pesembahkan jiwa dan raga rela mengabdi tuk Negara
Baret Jingga perisai Bangsaku tugas nan luhur mulia
Ikhlas berjuang demi Nusa Bangsa sampai titik darah penghabisan

Saat tugas memanggilmu jangan pamrih dan menghitung rugi
Karena itulah wujud bhaktimu untuk persada Indonesia
Meski jasadmu tlah hancur namun jiwamu pantang menyerah
Karena itulah Kehormatanmu prajurit baret jingga


Karmanye Vadikaraste Mafalesu Kadatjana.
Sabtu, 12 Januari 2013

Pensil Warna

"Hidup ini, selalu ada dua segi
Ibaratnya, jika ada kata menyerang, pasti ada kata bertahan
Mungkin kali ini, adalah waktumu menyerang,
dan kesempatanku bertahan.

Kita memang berbeda,
Tapi bukan berarti kita, Bermusuhan. :) "

Selembar kertas putih A4, terselip diantara tumpukan buku yang kubawa pergi dari tempat penuh kenangan tentang kami. Di pojok kiri atas tertulis coretan terakhirmu saat bersamaku, dengan bolpoin warna biru. Kata-katamu masih sederhana, dan aku masih saja menyukainya.

Di bolpoin warna biru, kamu menuliskan barisan kata yang kau anggap perlu, yang tak mampu kau katakan secara langsung padaku.

Aku ingat saat itu, kita, aku dan kamu, bolpoin biru dan pensil warna. Semua mempunyai peran dan kesibukan yang berbeda-beda . Kau menulis sesuatu dikertas yang ku genggam saat ini. Apa pentingnya kertas? kataku. Kamu tak peduli, masih tak mau keluar dari duniamu sendiri. Aku tertawa dan memainkan pensil warna biru di langit-langit rumahmu. "Kelak, kamu akan menyadari apa pentingnya kertas ini." gumammu. Aku tau, kamu tau berapa banyak lembar kertasmu yang tersimpan rapi dalam tumpukan buku-bukuku.

Ah. Pensil warna. Aku ingat kali pertama kau bertanya padaku, " diantara barisan warna ini, mana yang paling kau suka?". Aku diam sebentar dan tersenyum datar. " ini kan?" katamu sambil mengajukan warna biru. Tak salah menurutku, tapi, saat itu aku memilih pensil warna putih dalam barisan warna-warna yang ada dalam kotak pensil sederhanamu dan menggenggamnya."Kenapa??", dan kamu diam-diam tau, pertanyaan itu tak kan ada jawabnya.

Kau mengambil kertas putih dan aku juga. Kau menulis barisan kata dan aku juga sama. Kau asik menulis di kertasmu dan aku asik melihatmu hanyut dalam dunia yang hanya milikmu. ah, aku merindukan saat-saat yang seperti itu.

Kamu selesai dan larik-larik sajakmu terlihat jelas disana. Aku ingin kamu membacakannya untukku, tapi kau tak mau. Malu. Haha.. Kita memang seperti itu.

Kau melihat kertasku.

" Kosong??"

Aku tersenyum saja. Padahal ada tiga kata yang kutulis disana,

Aku sayang kamu.

Tiga kata yang malu-malu ada. Dan kamu, (sampai saat ini) tak menyadarinya.