"Hidup ini, selalu ada dua segi
Ibaratnya, jika ada kata menyerang, pasti ada kata bertahan
Mungkin kali ini, adalah waktumu menyerang,
dan kesempatanku bertahan.
Kita memang berbeda,
Tapi bukan berarti kita, Bermusuhan. :) "
Selembar kertas putih A4, terselip diantara tumpukan buku yang kubawa pergi dari tempat penuh kenangan tentang kami. Di pojok kiri atas tertulis coretan terakhirmu saat bersamaku, dengan bolpoin warna biru. Kata-katamu masih sederhana, dan aku masih saja menyukainya.
Di bolpoin warna biru, kamu menuliskan barisan kata yang kau anggap perlu, yang tak mampu kau katakan secara langsung padaku.
Aku ingat saat itu, kita, aku dan kamu, bolpoin biru dan pensil warna. Semua mempunyai peran dan kesibukan yang berbeda-beda . Kau menulis sesuatu dikertas yang ku genggam saat ini. Apa pentingnya kertas? kataku. Kamu tak peduli, masih tak mau keluar dari duniamu sendiri. Aku tertawa dan memainkan pensil warna biru di langit-langit rumahmu. "Kelak, kamu akan menyadari apa pentingnya kertas ini." gumammu. Aku tau, kamu tau berapa banyak lembar kertasmu yang tersimpan rapi dalam tumpukan buku-bukuku.
Ah. Pensil warna. Aku ingat kali pertama kau bertanya padaku, " diantara barisan warna ini, mana yang paling kau suka?". Aku diam sebentar dan tersenyum datar. " ini kan?" katamu sambil mengajukan warna biru. Tak salah menurutku, tapi, saat itu aku memilih pensil warna putih dalam barisan warna-warna yang ada dalam kotak pensil sederhanamu dan menggenggamnya."Kenapa??", dan kamu diam-diam tau, pertanyaan itu tak kan ada jawabnya.
Kau mengambil kertas putih dan aku juga. Kau menulis barisan kata dan aku juga sama. Kau asik menulis di kertasmu dan aku asik melihatmu hanyut dalam dunia yang hanya milikmu. ah, aku merindukan saat-saat yang seperti itu.
Kamu selesai dan larik-larik sajakmu terlihat jelas disana. Aku ingin kamu membacakannya untukku, tapi kau tak mau. Malu. Haha.. Kita memang seperti itu.
Kau melihat kertasku.
" Kosong??"
Aku tersenyum saja. Padahal ada tiga kata yang kutulis disana,
Aku sayang kamu.
Tiga kata yang malu-malu ada. Dan kamu, (sampai saat ini) tak menyadarinya.

0 komentar:
Posting Komentar