Upacara tradisi. Aku berada di Penjuru kanan saf ketiga. Baru kali ini aku tahu kalau air, angin dan api bisa berkolaborasi menjadi sebuah kesatuan yang sangat anggun. Dingin ? ah, aku tak peduli. Semesta punya peran sendiri dalam upacara ini.
Sebuah Hymne dinyanyikan, Aku merinding. Mataku memejam tanpa sengaja. Hanyut dalam lantunan Hymne yang diulang ulang dalam upacara. Seperti inikah TNI ?? Aku merasa sangat rendah, tiada apa-apanya.
Tugas bagi mereka adalah wujud bhakti, yang tanpa pamrih, tanpa peduli jasad hancur, tanpa peduli apakah dia akan gugur. Jiwanya takkan menyerah. Karena menjadi Prajurit adalah sebuah Kehormatan. Bukan Beban. Jadi disitulah kekuatan mereka berasal. Keikhlasan, Bhakti, dan Kehormatan yang mereka jaga.
Hormatku, Untuk TNI-AU di Bumi Nanggala.. Terimakasih untuk satu bulan yang kau berikan.
Kuberdiri di bawah panjimu sang Swa Bhuana Paksa
Kan ku pesembahkan jiwa dan raga rela mengabdi tuk Negara
Baret Jingga perisai Bangsaku tugas nan luhur mulia
Ikhlas berjuang demi Nusa Bangsa sampai titik darah penghabisan
Saat tugas memanggilmu jangan pamrih dan menghitung rugi
Karena itulah wujud bhaktimu untuk persada Indonesia
Meski jasadmu tlah hancur namun jiwamu pantang menyerah
Karena itulah Kehormatanmu prajurit baret jingga
Karmanye Vadikaraste Mafalesu Kadatjana.
