Saat aku teringat sebuah malam dimana aku bercerita. Tentang sebuah kisah yang mungkin dulu tak pernah berkesan. Mungkin bukan sesuatu yang indah untuk dijadikan sebuah cerita yang menarik. Bukan pula sebuah hal yang berarti untuk dimengerti. Namun sedikit rasa mungkin bisa mengungkapkan segalanya, bahkan beserta hal-hal yang bahkan tak cukup diutarakan dengan kata-kata. Aku tahu saat semua berada tepat pada titik baliknya, kelucuan ini akan menjadi sebuah tragedi. Namun apa daya jika itu harus terjadi, tak apa asalkan kau mengerti. Bahwa sebenarnya kisah ini begitu sulit untuk diungkapkan. Begitu rumit untuk digambarkan.
Sampai suatu saat aku menangis, karena hal yang sungguh memalukan. Aku berani mengakui ini karena memang hal itu telah terjadi. Aku tak tahu ingin memulai dari mana, sebenarnya. Namun mungkin ada baiknya jika aku bertutur runtut, meski nanti tetap saja sulit dalam pemahamannya.
Awalnya, sungguh ku tak tahu benerkah yang orang katakan bahwa, satu sisi yang bahkan paling kubenci sekalipun akan jadi hal berarti jika kumengerti bagaimana cara membaginya. Namun disinilah letak kelemahanku yang paling puncak, dimana akupun sebenarnya tak mau menjadikan ini sebuah olokan. Tapi rasanya tak mungkin itu terjadi, karena hal terburuk yang kini kurasakan adalah bodohnya aku masa itu, tak mau meminta pertolongan pada yang mampu.
Bahkan sebenarnya, begitu banyak waktu yang terlewatkan bersamamu sia-sia. Hanya karena keegoisan yang kujaga mati tanpa sedikitpun jeda yang kuberikan disekelilingnya. Lalu aku harus termenung dengan segala keterbatasan saat melihat angin pun mengejek ketakutanku bicara. Hanya untuk mengungkapkan apa yang kubutuhkanpun aku tak sanggup, bagaimana bisa dikatakan ini baik-baik saja? Sungguh sebuah filosofi yang salah jika aku masih menganut paham yang menyesatkan dulu. Tapi harus bagaimana lagi kutuliskan jika begitu adanya. Aku hanya bertutur, tanpa peduli nanti tanggapan yang kauberikan.
Terkadang mungkin ini dapat diawali dari sebuah mimpi yang begitu mendebarkan. Saat keindahan itu seolah-olah jadi kenyataan. Namun aku tak punya keberanian lebih untuk sekedar menyapa. Meski kelembutan yang semestinya benar-benar terbaca. Sesungguhnya nyala api malam itu cukup terang untuk menunjukkan jalanku. Dan percikannya sanggup menggetarkan hatiku. Tapi apa boleh buat jika bintang pun berkata tidak, dan bulan malam itu terlalu naif untuk beranjak.
Perlu sedikit renungan waktu teramati tingkahmu yang dulunya tak pernah sedikitpun kuperhatikan. Entah medan magnet mana yang tiba-tiba saja begitu kuat menyusup kalbuku, dan dengan sadisnya menggerogoti keteguhanku. Namun, aku tak berdaya lagi untuk menolak, meskipun keinginan untuk berlaku jujur terlalu jauh bila diharapkan.
Sesuatu yang patut dipertanyakan saat senyum itu terasa sejuk. Bahkan mungkin akupun tak mengerti bagaimana proses terjadinya. Sungguh saat itu yang aku tahu hanya sebuah kepastian tentang sebuah nada yang tiba-tiba saja bernyanyi. Entah itu menghibur hati, atau menghancurkannya sama sekali. Akupun heran kenapa harus seperti itu.
Dan aku sadar bahwa ternyata anginpun ikut andil dalam sebuah cerita panjang yang tak ada henti. Menikmati hembusan nafas yang perlahan menghabiskan jatah oksigen di udara. Bahkan rasa menggigil itupun tak sanggup meredam kecewa yang jelas-jelas terbaca saat punggung itu menjauh tanpa sedikitpun tersentuh. Tapi akupun tak bisa berbuat yang lebih, karena bagaimanapun, kedatangan itu mungkin hanya sekedar basa-basi agar kemarahan terkendali.
Hanya sedikit rasa senang saat rangkaian ucapan maaf tersematkan. Meskipun kalau aku dihadapkan, takkan ada sedikitpun kata yang mengalir. Mungkin terasa membosankan saat kepala ini bahkan tak mau sedikitpun terangkat, sehingga keputusan untuk meninggalkan adalah yang paling berkesan. Namun kadang keegoisanku mendominasi. Hingga yang terjadi bukannya suatu yang berarti, malah sebuah tragedi. Namun seperti biasa, semua lenyap ditelan waktu yang merayap.
Lalu entah berapa waktu sampai itu terlupakan, karena kita pun sama-sama telah disibukkan. Aku mengerti saat itu mungkin terlalu lama untuk sekedar mengakui bahwa, hati yang sebenarnya telah jadi dilema. Disaat yang tak seharusnya kumulai untuk berbenah, setan yang menggoda begitu sulit dikendalikan.
Dan kalau tidak keliru dari perkiraan yang telah direncanakan, pastinya. Tepat pada waktu dimana perjanjian tertera. Aku pun hanya bisa menatap nanar bayangmu yang begitu keterlaluan membuatku menangis di pinggir jalan. Menggodaku dengan ribuan gambar yang menambah hatiku merana, dibubuhi cerita yang sama sekali tak bisa kucerna. Hingga keputusan itu datang, dan akupun menyambut uluran tangan meski hanya sebagian. Karena sungguh hati ini tak lagi mampu berkompromi, bahkan untuk sekedar menjadikan itu ilusi.
Sungguh jika kau tahu apa yang sebenarnya kulakukan, saat pertama kali untuk kesekian kalinya aku mencoba menguatkan diri dari tatapan matamu yang menusuk kalbu. Mungkin kau akan tertawa terpingkal karena heran. Betapa aku berharap waktu yang dijanjikan secepatnya datang, dan sungguh aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Bahkan diwaktu kutemukan sedikit jejakmu, hati ini berteriak takut untuk melanjutkan. Bukan takut karena sosokmu yang menakutkan, namun takut jika kelakuann ini jadi memalukan.
Dan benar adanya apa yang terjadi, disaat hati ini tak lagi terkendali. Mungkin karena rindu yang begitu menggebu, atau mungkin memang ada yang merusak syarafku. Bahkan sebenarnya aku benar-benar dalam keraguan. Mungkinkah aku mendapatkannya saat ini, di sini. Dengan segala resiko yang kupikir tidak masuk akal, dan kau dengan santainya membawaku ke sana. Tanpa sebuah jeda yang kuinginkan, kau coba berlaku adil dengan tidak terlalu lama menyiksaku dengan kebisuan. Mungkin hal itu memang lebih tepat jika tidak diungkapkan dengan kata-kata. Tapi sungguh, setelah benar-benar itu terjadi aku tak bisa melakukan apa-apa.
Lalu dengan bodohnya aku meminta sesuatu yang lebih. Dan ternyata, memang benar adanya aku luluh dihadapanmu. Bahkan dengan sekali kebisuan yang mendebarkan itu, aku merasa hati ini benar-benar terkunci mati. Hingga beberapa waktu berlalu dari hari yang mendebarkan itu. Saat keputusan lain diambil dan menyebabkan semua tak terkondisikan. Memang benar adanya selama ini aku hanya bersembunyi. Namun kurasa, aku belum siap untuk segalanya, meski waktu itu telah berjalan lama.
Dan aku masih benar-benar ingat tentang bagaimana keputusanmu yang menyesakkan hatiku. Namun sepertinya memang itu jalan terbaik yang harus ditempuh demi kelangsungan semuanya. Meskipu pada akhirnya cerita itu kembali seperti awalnya, namun tetap saja ada sedikit unsur tidak percaya pada senyum yang kembali menyapa. Bukan karena kecewa, namun lebih karena terpesona.
Begitulah akhirnya nada itu mulai berdendang, dengan tinggi rendah yang tak dapat diprediksi, bahkan nada sumbang pun kadang menghampiri. Meski banyak yang sebenarnya bisa diceritakan, namun mungkin lebih indah jika itu tetap jadi nada yang penuh misteri. Hanya beberapa yang begitu berkesan dalam ingatan mungkin akan membantu menerjemahkan lagu yang akan digubah. Dan jika syair itu tak seperti yang diharapkan, mungkin itu hanya karena salah mengartikan nada yang tak terbaca.
Kesan pertama yang kurasa mungkin bukan hanya terjadi sekali dua, karena ini adalah inti dari cerita yang sedang terjadi. Walau dahulu, untuk sekedar melihat senyum itu begitu rumitnya. Tapi terkadang, ada perasaan bahagia karena bagaimanapun hasilnya, ada sebuah tantangan yang selalu harus dikerjakan. Ibarat sebuah undian berhadiah yang berharap keutamaan yang datang.
Walau sekiranya orang lain melihat perjalanan ini terlalu lucu untuk dijadikan referensi, namun bagiku tetap saja tak tergantikan. Karena semua yang kudapatkan tak semudah yang kuperkirakan. Terkadang aku benar-benar merasa bahwa sedikit tak berguna semua yang sengaja kutulis. Meskipun begitu, tetap saja jari ini enggan untuk berhenti sejenak dan menyeka kepedihan. Karena itu merupakan sebuah bagian yang tak terganti, meski menyakiti.
Dan saat kadang rasa sakit menggerogoti hati yang terdalam, aku merasa beban ini begitu berat kusandang. Suatu saat aku berfikir, mungkin dengan mencoba menghapus semua ketergantungan itu, sedikit rasa berat akan sirna. Namun ternyata aku keliru. Aku tak sanggup menghadapi ini sendirian, tanpa teman.
Lalu semua akan berulang seperti sebuah siklus yang tak pernah usai. Selalu menjadi sebuah kesetaraan yang secara tidak pasti tergerogoti. Keindahan yang sebenarnya memang tak pernah tampak nyata. Karena disetiap sisinya pasti ada sepenggal rasa yang tak terbaca. Sungguh hanya mata hati yang benar-benar mengerti, betapa ketimpangan yang ada punya makna yang dapat dirasa. Dan hati ini punya sebuah kunci, dalam kesedihan dan kebahagiaan yang tak terperi.
Terkadang aku merasa hati ini sedikit lebih lelah dari biasanya, saat ketidakpastian yang terucap semakin nyata. Mungkin butuh waktu agak lama untuk memahami semua, bahwa rasa sakit itu tak seharusnya jadi dilema. Dan aku mulai bosan untuk sekedar basa-basi dengan mimpi yang mau atau tidak pasti terulang kembali. Aku mulai jenuh dengan kebohongan dan mencoba sok tegar untuk berada di atas keluguanku. Sampai suatu saat aku sadar, bahwa sesungguhnya aku hanya bisa berbohong pada orang lain dan diriku sendiri. Tanpa pernah bisa berbohong padamu lagi. Sejak saat itu.
Dan kadang ada beberapa hal yang tak pernah kuinginkan datang pada waktu yang tak semestinya. Sungguh, tapi hal itu bukanlah lelucon yang sebenarnya kubuat-buat hanya untuk mencari simpati. Seperti yang dulu pernah kau katakan bahwa kau lebih dari sekedar tahu, akupun setuju dengan pernyataan yang serupa, karena sungguh akupun tak pernah mengerti kenapa aku seperti ini. Dan semuanya mengalir tanpa pernah mau berhenti untuk sekedar istirahat, sejenak. Terlalu banyak waktu terbuang percuma untuk hal yang tak berharga harus dipertaruhkan, begitu selalu katamu. Meski tak pernah tertulis secara gamblang.
Ketika semua ketidak urutan ini mulai menjadi momok dalam hati, aku hanya meminta kesabaramu dalam mengawasiku. Sekedar mengawasi ketidaksempurnaan yang akan terjadi. Dan aku percaya, bahwa sesungguhnya tidak ada manusia yang sempurna seperti harapan. Hanya sebuah proses untuk menerima yang terkadang butuh kesabaran ekstra karena ia sungguh amat menjemukan. Tapi di sanalah hidup yang sebenarnya terjadi.
Kadang, aku merasa perlu sejenak kembali menekuri perjalanan hati yang sebenarnya. Bahwa hidup ini berada di tengah lautan manusia yang begitu rupanya tak pernah sama. Dan mungkin dari sana aku bisa belajar untuk kehidupan, bahwa mereka juga teman. Bahwa aku punya hak dan kewajiban untuk mereka. Sebenarnya. Mungkin aku sudah melantur kemana-mana lepas kendali dari masalah sebenarnya. Namun, tak apalah. Setidaknya sedikit keegoisanku terpampang di situ. Karena itu yang menjadi ciri khas selama ini. Atau mungkin memang seperti itulah yang terbaca, aku tak mengerti. Hanya mencoba memahami, karena aku tak pernah merasakan.
Atau sebenarnya aku harus mencoba kembali. Untuk mulai dari awal lagi. Mungkin sejenak aku harus mengingat sedikit ke masa silam, saat semua mimpi masih bergelantungan dengan indahnya. Kau pernah sekali waktu mendebatku, tentang teori kehidupan yang tak juga terpecahkan. Atau mungkin kita dulu sama-sama mengerti untuk tidak saling menyakiti, aku tak mengerti. Yang kutahu hanya masalah yang sebenarnya tak pernah dibesar-besarkan, cukup.
Lepas dari semua esensi rasa yang tak kunjung terbaca, aku bisa sedikit menyapa mereka dalam balutan tanda tanya. Karena apapun goresan yang kau torehkan di sekelilingku, semua membekas dengan sempurna. Tanpa sedikitpun ternoda. Dan kau tak perlu khawatir. Karena meskipun itu menyakitkan, pada akhirnya tetap menyenangkan. Dan aku hanya berharap suatu hal. Jika nanti kau lihat sesuatu yang lain dari yang segala topik yang pernah kita bincangkan. Sudilah kiranya sedikit berbagi. Dengan segala kemungkinan yang terjadi. Agar aku tahu, meski hanya sekedarnya. Meski hanya pokok dan intinya.
Lalu mungkin seperti yang sudah kukatakan sebelumnya. Aku tak mampu menyelesaikan semuanya. Karena memang ini belum berakhir. Masih jauh jalan yang harus kita tempuh. Masih banyak kata yang harus kita tulis. Dengan atau tanpa keinginan. Dan aku berjanji, cerita itu akan selalu ada. Disetiap lantunan do’a yang terbaca.
Dan sekali lagi aku mohon keikhlasanmu. Untuk segala salah dan khilafku. Semua ini hanya awalnya. Dan akan lebih banyak cerita selanjutnya. Saat kau lihat langit yang biru, disanalah sebenarnya harapanku. Meski mimpi-mimpi kusimpan rapi dibalik bintang yang berpijar, samudra langit tetap lebih indah untuk belajar kebijakan.
... Tujuh tahun kau pilih aku untuk teman belajarmu, semoga kau tak pernah lelah untuk berbagi ilmu.
Malang-Tulungagung