Senin, 29 Oktober 2012

Aku, Kamu, dan Romansa

Kebanyakan orang, mungkin, suka saat kekasihnya menyanjungnya dengan rangkaian kata cinta. Romantis, kata mereka.

Kamu, sayangku, adalah romantisme yang hidup. yang ada, tanpa banyak kata.
Terkadang puisimu adalah seuntai senyuman, dan kau tanamkan sajak cintamu dengan pandangan mata, entah bagaimana caranya.

Kamu, indah, sayangku. Saat mereka menggunakan rangkaian kata, kau berbeda. Kau tak butuh, tepatnya.

Aku mencintaimu, dalam kebisuan puisiku. 
Cinta yang tiada dalam larik-larik yang terbaca.
Cinta yang menjelma, saat puisi itu sendiri, tiada.



Minggu, 21 Oktober 2012

Jika kamu, sayangku

Jika kamu puisi, sayangku.
Aku ingin menjadi jeda di sana
menjadi tempatmu bernafas
atau menyusun nada, dan kata indah berikutnya.


Jika kamu puisi, sayangku.
Aku  ingin menjadi rimanya.

menjadi susunan kata,

yang kau pilih untuk ada.


Itu saja.
Minggu, 14 Oktober 2012

Kali ini aku tahu


Selamat Malam.

Malam ini tanpa sengaja aku baca catatanmu, ya, sesuatu yang tanpa sengaja ku ulangi tiap hari sejak kita memutuskan untuk menikmati tiap malam kita sendiri-sendiri.

Catatanmu kali ini tentang orang ketiga, yang entah kenapa tak kau sebutkan namanya. Disini aku mencoba menempatkan diri sebagai pembaca yang tak mengenalmu. Pembaca yang pura-pura tak tahu (si)apa(pun) yang terlintas dalam benakmu. Karena terlalu tak adil jika aku tiba-tiba saja menempatkan diri menjadi tokoh dalam ceritamu, sungguhpun, kadang aku tau kau menulis cerita tentang aku.

Ada tiga tokoh dalam ceritamu. Aku yakin kamu salah satunya. Kau tulis "aku mencintainya". Mencintaiku? Segera saja kutenggelamkan egoku. Mana mungkin?? komentarku disini, dan yang jelas, kamu takkan mendengarnya- walau aku ingin kau tersenyum dan meyakinkan aku, persis seperti malam-malam sebelumnya.

Aku yakin setidaknya bukan aku yang jadi orang ketiga. Entah darimana. Kubaca barisan kata selanjutnya dengan keyakinan kalau aku bukan orang ketiga. Bukan. Bukan aku orang ketiganya.

Cerita ini tak asing.

Potongan cerita ini tak sengaja kutemukan di telepon genggam seorang sahabat dekat.

"Aku mencintaimu"

dan di bawahnya tertera nomormu.

Ya, aku tahu. Kali ini aku tidak ada di ceritamu.
Minggu, 03 Juni 2012

Curhat Buat Sahabat


 

Gaun hitammu menyambar kaki meja, lalu menyapu ujung kakiku. Kamu sengaja berdandan. Membuatku agak malu karena muncul berbalut jaket jins, celana khaki, dan badan sedikit demam.

“Kamu tidak tahu betapa pentingnya malam ini.” Katamu, tertawa tersipu, seakan minta dimaklumi. Pastinya kamu yang merasa tampil berlebihan, karena katamu tadi di telepon, kita hanya akan makan malam sambil mendengarkanmu curhat.

Sebotol Muscat yang terbalur dalam kepingan es diantarkan ke meja. Dudukku langsung tegak. Jangan-jangan mala mini memang betulan penting.

Anggur itu berusia enam tahun. Gaun itu cuma keluar sekali dalam dua tahun. Restoran ini terakhir kamu pilih saat ulang tahun hari jadi jatuh tintamu ke-1, empat tahun yang lalu. “Ada yang perlu dirayakan? Selain kamu baru sembuh sakit dan aku yang gantian tidak enak badan?” tanyaku, berusaha santai.
“Malam ini aku lahir baru.”

“Kamu… bertobat?”

“Bisa jadi itu istilahnya!” tawamu menggelak-gelak lepas, lalu kamu mengatur napas, “Aku… selesai.”

Mataku menyipit. Menunggu penjelasan.

“Selesai! Semua sudah selesai. Lima tahun sudah cukup. Aku berhenti menunggu. Berhenti berharap. Cheers!” Kamu dentingkan gelasmu ke gelasku.

Bulu kudukku meremang tersapu hawa demam yang tiba-tiba melonjak sesaat dari dalam tubuh. Atau pendingin ruangan yang terlampau sejuk. Piano mengalun terlalu indah di kuping. Kamu terlalu cantik saat menyerukan ikrar kebebasanmu. Aku merinding lagi dan selapis keringat dingin menyembul di tepi kening.

“Kenapa?” tanyaku, dan kamu pasti sudah siap untuk itu. Untuk sepotong kata Tanya itulah kamu berdandan, mengenakan baju terbaikmu, dan memilih tempat ini.

Tolong jangan tersinggung jika kubilang aku tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Pertama, akan ada jeda kosong sekurang-kurangnya tiga menit, dimana aku akan melipat tangan di dada sambil memandangimu sabar, dan kamu akan memandang kosong ke satu titik, seolah di titik itulah halte tempat berbagai kenangan tentangnya berkumpul dan siap diangkut ke seluruh tubuhmu. Mulutmu lalu berkata-kata tentangnya, matamu dipenuhi olehnya, dan tak lama lagi kamu akan terlapisi saput yang tak bisa kutembus. Hanya kamu sendirian disitu. Dan kamu tak pernah tahu itu.

Ceritamu kerap berganti selama lima tahun terakhir. Semenjak kamu resmi tergila-gila padanya. Kadang kamu bahagia, kadang kamu biasa-biasa saja, kadang kamu nelangsa. Namun saput itu selalu ada. Kadang membuatku ingin gila.

“Aku menyadari sesuatu waktu aku sakit kemarin.” Kamu mulai bertutur setelah sembilan puluh detik menatap piano. “Satu malam aku sempat terlalu lemas untuk bangun, padahal aku Cuma ingin ambil minum. Tidak ada siapa-siapa yang bisa kumintai tolong…”

Jaketku harus kurapatkan. Sensasi meriang itu datang lagi.

“Malam itu rasanya aku sampai ke titik terendah. Aku capek. Dan kamu tahu? Aku tidak butuh dia. Yang kubutuhkan adalah orang yang menyayangi aku… dan segelas air putih.”

Kepalamu menunduk, matamu terkatup, kamu sedang menahan tangis. Malam panjang kita resmi dimulai.

“Tapi… aku janji… tangisan ini buat yang terakhir kali…” katamu tersendat, antara tawa dan isak. Berusaha tampil tegar.

Dan inilah saatnya aku menepuk halus punggung tanganmu. Dua-tiga kali tepuk. Dan tibalah saatnya kamu tersengguk-sengguk. Tak terhitung banyaknya. Lalu bedak dan lipstikmu meluntur tergosok tisu.

“Orang… yang begitu tahu aku sakit… mau jam berapapun… langsung datang…” Susah payah kamu bicara.

Aku ingat malam itu. Hujan menggelontor sampai dahan-dahan pohon tua di jalanan rumahku rontok seperti daun kering. Teleponku berdering pukul setengah dua belas malam. Aku mobilku kering, jadi kupinjam motor adikku. Sayang adikku tak punya jas hujan. Dan aku terlalu terburu-buru untuk ingat bawa baju ganti. Ada seseorang yang membutuhkanku. Ia minta dibelikan obat flu karena stok di rumahnya habis. Lalu ia minta dibawakan segelas air, yang hangat. Aku menungguinya sampai ia ketiduran. Dan wajahnya saat memejamkan mata, saat semua kebutuhannya terpenuhi, begitu damai. Membuatku lupa bahwa berbaju basah pada tengah malam bisa mengundang penyakit. Saat itu ada yang lebih penting bagiku daripada mengkhawatirkan virus influenza. Aku ingin membisikkan selamat tidur, jangan bermimpi. Mimpi mengurangi kualitas istirahatnya. Dan untuk bersamaku, ia tak perlu mimpi.

Napasmu mulai terdengar teratur. Air mata masih mengalir satu-satu, tapi bahumu tak lagi naik turun. Kamu menatapku lugu. “Keinginan itu… tidak ketinggian , kan?”

Lama baru aku bisa menggeleng. Tak ada yang muluk dari obat flu dan air putih. Tapi kamu mempertanyakannya seperti putri minta dibuatkan seribu candi dalam semalam.

”Jadi, sekarang kamu mau bagaimana?” demikianlah ciri khas malam curhat kita. Kamu tidak butuh instruksi. Aku hanya bertindak seumpama cermin yang memantulkan segala yang kamu inginkan. Kamu sudah tahu harus berbuat apa, sebagaimana kamu selalu tahu perasanmu, kepedihanmu, dan langkahmu berikutnya. Kamu hanya butuh kalimat tanya.

”Aku akan diam,” jawabmu dengan nada mantap yang membuat sengguk dan isak barusan seolah tak pernah terjadi.

”Diam?”

”Ya. Diam! Diam ditempat. Tidak ada lagi usaha macam-macam, mimpi muluk-muluk. Karena aku yakin diluar sana, pasti ada orang yang mau tulus sayang sama aku, yang mau menemani aku pada saat susah, pada saat aku sakit…”

Kamu selalu tahu kebutuhanmu dari waktu ke waktu. Yang tidak kamu tahu adalah kamu sendirian dalam saput itu.

Gelas-gelas kita kembali diisi. Lagi, kamu mengajakku mengadu keduanya, dan kali ini dengan semringah kamu berkata, ”Demi penantian yang baru! Yang tidak muluk-muluk! Cheers!”

Sesuatu dalam ruangan ini terlalu menyakitkan bagiku. Entah semburan angin dari mesin pendingin atau suara piano yang mengiris-iris kuping. Entah anggur ini terlalu tua bagi lidahku atau cinta ini terlalu tua bagi hatiku. Kurapatkan jaketku hingga tak bisa ditarik ke mana-mana lagi.

”Kamu sakit?” Kudengar kamu bertanya dengan nada cemas. Kulihat kedua alismu spontan bertemu, menunjukkan rasa heran yang sungguhan.

”Ya.”

”Gara-gara kehujanan waktu ke rumahku itu, ya?”

”Ya.”

Sebotol mahal anggur putih ada di depan matamu, tapi kamu tak pernah tahu. Kamu terus menanti. Segelas air putih.

 
Kamis, 31 Mei 2012

Unintended


Janji itu unik, kawan. Apalagi saat kamu ucapkan pada sahabat, teman dekat, kekasih, atau seseorang yang kamu anggap berharga buatmu.

 

Coba ucapkan satu janji untuk mereka. Kalimatmu akan mengalir begitu mudahnya. J Sadar ?? Karena fikiran anda ada untuk mereka. Tak peduli bagaimanana nanti, anda telah berjanji dan memberinya bingkai di nurani. Secara naluriah, manusia akan berusaha menepati janji itu, apalagi janji untuk seseorang yang benar-benar berarti.
Haha, sekarang saya mau bertanya, apakah anda pernah berjanji pada mereka ? Janji untuk saling mencintai lah, janji untuk selalu ada lah atau kata-kata romantic lainnya ?
Wajar kawan, anda masih kasmaran :P.. tapi saran saya, jangan pernah sekali-kali berjanji yang sekiranya anda tidak bisa penuhi..

Contohnya ??

"jika pisah nanti, aku pengen kamu ga hubungin aku lagi, ga boleh SMS, ga boleh nelpon atau ngomong apa aja yang berhubungan dengan kita lagi"

Sumpah berat sekali.


*secara ga sengaja waktu aku selesai nulis post ini, music player ku muter lagu Anjelienya flanella-- (sepertinya semesta bersekongkol merusak moodku, hadeeeh)

Senin, 12 Desember 2011

nat, gue pinjem puisi lu, ya??

Lama gag buka blog. Ternyata sekarang udah ada sarang laba-laba dimana-mana. Untung aja gag ada gelandangan yang tiduran disini, haha..

Gag tau ilham apa yang buat aku buka blog ini lagi. aku baca-baca, ternyata aku nulis semua tentang kamu disini. , hahaha… sementara sekarang kamu uda gag ada, atau lebih tepatnya gag nganggep aku ada, aku bisa apa ??

eh…. bukan ding,   “aku mau nulis apa” ??


akhirnya aku cuma bisa pinjem puisinya nata.

bulan emas tinggal separuh
bintang-bintang sangat pemalu
Kau terduduk disampingku
Aku lantas mencintai bayangmu
Kau menoleh untuk tersenyum
Hatiku berserakan,… lebur dan lepuh

mungkin setelah ini aku harus nemuin topik baru, selain kamu.. :




Jumat, 29 Juli 2011

SEBUAH CERITA TENTANG LANGIT

Saat aku teringat sebuah malam dimana aku bercerita. Tentang sebuah kisah yang mungkin dulu tak pernah berkesan. Mungkin bukan sesuatu yang indah untuk dijadikan sebuah cerita yang menarik. Bukan pula sebuah hal yang berarti untuk dimengerti. Namun sedikit rasa mungkin bisa mengungkapkan segalanya, bahkan beserta hal-hal yang bahkan tak cukup diutarakan dengan kata-kata. Aku tahu saat semua berada tepat pada titik baliknya, kelucuan ini akan menjadi sebuah tragedi. Namun apa daya jika itu harus terjadi, tak apa asalkan kau mengerti. Bahwa sebenarnya kisah ini begitu sulit untuk diungkapkan. Begitu rumit untuk digambarkan.

Sampai suatu saat aku menangis, karena hal yang sungguh memalukan. Aku berani mengakui ini karena memang hal itu telah terjadi. Aku tak tahu ingin memulai dari mana, sebenarnya. Namun mungkin ada baiknya jika aku bertutur runtut, meski nanti tetap saja sulit dalam pemahamannya.

Awalnya, sungguh ku tak tahu benerkah yang orang katakan bahwa, satu sisi yang bahkan paling kubenci sekalipun akan jadi hal berarti jika kumengerti bagaimana cara membaginya. Namun disinilah letak kelemahanku yang paling puncak, dimana akupun sebenarnya tak mau menjadikan ini sebuah olokan. Tapi rasanya tak mungkin itu terjadi, karena hal terburuk yang kini kurasakan adalah bodohnya aku masa itu, tak mau meminta pertolongan pada yang mampu.

Bahkan sebenarnya, begitu banyak waktu yang terlewatkan bersamamu sia-sia. Hanya karena keegoisan yang kujaga mati tanpa sedikitpun jeda yang kuberikan disekelilingnya. Lalu aku harus termenung dengan segala keterbatasan saat melihat angin pun mengejek ketakutanku bicara. Hanya untuk mengungkapkan apa yang kubutuhkanpun aku tak sanggup, bagaimana bisa dikatakan ini baik-baik saja? Sungguh sebuah filosofi yang salah jika aku masih menganut paham yang menyesatkan dulu. Tapi harus bagaimana lagi kutuliskan jika begitu adanya. Aku hanya bertutur, tanpa peduli nanti tanggapan yang kauberikan.

Terkadang mungkin ini dapat diawali dari sebuah mimpi yang begitu mendebarkan. Saat keindahan itu seolah-olah jadi kenyataan. Namun aku tak punya keberanian lebih untuk sekedar menyapa. Meski kelembutan yang semestinya benar-benar terbaca. Sesungguhnya nyala api malam itu cukup terang untuk menunjukkan jalanku. Dan percikannya sanggup menggetarkan hatiku. Tapi apa boleh buat jika bintang pun berkata tidak, dan bulan malam itu terlalu naif untuk beranjak.

Perlu sedikit renungan waktu teramati tingkahmu yang dulunya tak pernah sedikitpun kuperhatikan. Entah medan magnet mana yang tiba-tiba saja begitu kuat menyusup kalbuku, dan dengan sadisnya menggerogoti keteguhanku. Namun, aku tak berdaya lagi untuk menolak, meskipun keinginan untuk berlaku jujur terlalu jauh bila diharapkan.

Sesuatu yang patut dipertanyakan saat senyum itu terasa sejuk. Bahkan mungkin akupun tak mengerti bagaimana proses terjadinya. Sungguh saat itu yang aku tahu hanya sebuah kepastian tentang sebuah nada yang tiba-tiba saja bernyanyi. Entah itu menghibur hati, atau menghancurkannya sama sekali. Akupun heran kenapa harus seperti itu.

Dan aku sadar bahwa ternyata anginpun ikut andil dalam sebuah cerita panjang yang tak ada henti. Menikmati hembusan nafas yang perlahan menghabiskan jatah oksigen di udara. Bahkan rasa menggigil itupun tak sanggup meredam kecewa yang jelas-jelas terbaca saat punggung itu menjauh tanpa sedikitpun tersentuh. Tapi akupun tak bisa berbuat yang lebih, karena bagaimanapun, kedatangan itu mungkin hanya sekedar basa-basi agar kemarahan terkendali.

Hanya sedikit rasa senang saat rangkaian ucapan maaf tersematkan. Meskipun kalau aku dihadapkan, takkan ada sedikitpun kata yang mengalir. Mungkin terasa membosankan saat kepala ini bahkan tak mau sedikitpun terangkat, sehingga keputusan untuk meninggalkan adalah yang paling berkesan. Namun kadang keegoisanku mendominasi. Hingga yang terjadi bukannya suatu yang berarti, malah sebuah tragedi. Namun seperti biasa, semua lenyap ditelan waktu yang merayap.

Lalu entah berapa waktu sampai itu terlupakan, karena kita pun sama-sama telah disibukkan. Aku mengerti saat itu mungkin terlalu lama untuk sekedar mengakui bahwa, hati yang sebenarnya telah jadi dilema. Disaat yang tak seharusnya kumulai untuk berbenah, setan yang menggoda begitu sulit dikendalikan.

Dan kalau tidak keliru dari perkiraan yang telah direncanakan, pastinya. Tepat pada waktu dimana perjanjian tertera. Aku pun hanya bisa menatap nanar bayangmu yang begitu keterlaluan membuatku menangis di pinggir jalan. Menggodaku dengan ribuan gambar yang menambah hatiku merana, dibubuhi cerita yang sama sekali tak bisa kucerna. Hingga keputusan itu datang, dan akupun menyambut uluran tangan meski hanya sebagian. Karena sungguh hati ini tak lagi mampu berkompromi, bahkan untuk sekedar menjadikan itu ilusi.

Sungguh jika kau tahu apa yang sebenarnya kulakukan, saat pertama kali untuk kesekian kalinya aku mencoba menguatkan diri dari tatapan matamu yang menusuk kalbu. Mungkin kau akan tertawa terpingkal karena heran. Betapa aku berharap waktu yang dijanjikan secepatnya datang, dan sungguh aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Bahkan diwaktu kutemukan sedikit jejakmu, hati ini berteriak takut untuk melanjutkan. Bukan takut karena sosokmu yang menakutkan, namun takut jika kelakuann ini jadi memalukan.

Dan benar adanya apa yang terjadi, disaat hati ini tak lagi terkendali. Mungkin karena rindu yang begitu menggebu, atau mungkin memang ada yang merusak syarafku. Bahkan sebenarnya aku benar-benar dalam keraguan. Mungkinkah aku mendapatkannya saat ini, di sini. Dengan segala resiko yang kupikir tidak masuk akal, dan kau dengan santainya membawaku ke sana. Tanpa sebuah jeda yang kuinginkan, kau coba berlaku adil dengan tidak terlalu lama menyiksaku dengan kebisuan. Mungkin hal itu memang lebih tepat jika tidak diungkapkan dengan kata-kata. Tapi sungguh, setelah benar-benar itu terjadi aku tak bisa melakukan apa-apa.

Lalu dengan bodohnya aku meminta sesuatu yang lebih. Dan ternyata, memang benar adanya aku luluh dihadapanmu. Bahkan dengan sekali kebisuan yang mendebarkan itu, aku merasa hati ini benar-benar terkunci mati. Hingga beberapa waktu berlalu dari hari yang mendebarkan itu. Saat keputusan lain diambil dan menyebabkan semua tak terkondisikan. Memang benar adanya selama ini aku hanya bersembunyi. Namun kurasa, aku belum siap untuk segalanya, meski waktu itu telah berjalan lama.

Dan aku masih benar-benar ingat tentang bagaimana keputusanmu yang menyesakkan hatiku. Namun sepertinya memang itu jalan terbaik yang harus ditempuh demi kelangsungan semuanya. Meskipu pada akhirnya cerita itu kembali seperti awalnya, namun tetap saja ada sedikit unsur tidak percaya pada senyum yang kembali menyapa. Bukan karena kecewa, namun lebih karena terpesona.

Begitulah akhirnya nada itu mulai berdendang, dengan tinggi rendah yang tak dapat diprediksi, bahkan nada sumbang pun kadang menghampiri. Meski banyak yang sebenarnya bisa diceritakan, namun mungkin lebih indah jika itu tetap jadi nada yang penuh misteri. Hanya beberapa yang begitu berkesan dalam ingatan mungkin akan membantu menerjemahkan lagu yang akan digubah. Dan jika syair itu tak seperti yang diharapkan, mungkin itu hanya karena salah mengartikan nada yang tak terbaca.

Kesan pertama yang kurasa mungkin bukan hanya terjadi sekali dua, karena ini adalah inti dari cerita yang sedang terjadi. Walau dahulu, untuk sekedar melihat senyum itu begitu rumitnya. Tapi terkadang, ada perasaan bahagia karena bagaimanapun hasilnya, ada sebuah tantangan yang selalu harus dikerjakan. Ibarat sebuah undian berhadiah yang berharap keutamaan yang datang.

Walau sekiranya orang lain melihat perjalanan ini terlalu lucu untuk dijadikan referensi, namun bagiku tetap saja tak tergantikan. Karena semua yang kudapatkan tak semudah yang kuperkirakan. Terkadang aku benar-benar merasa bahwa sedikit tak berguna semua yang sengaja kutulis. Meskipun begitu, tetap saja jari ini enggan untuk berhenti sejenak dan menyeka kepedihan. Karena itu merupakan sebuah bagian yang tak terganti, meski menyakiti.

Dan saat kadang rasa sakit menggerogoti hati yang terdalam, aku merasa beban ini begitu berat kusandang. Suatu saat aku berfikir, mungkin dengan mencoba menghapus semua ketergantungan itu, sedikit rasa berat akan sirna. Namun ternyata aku keliru. Aku tak sanggup menghadapi ini sendirian, tanpa teman.

Lalu semua akan berulang seperti sebuah siklus yang tak pernah usai. Selalu menjadi sebuah kesetaraan yang secara tidak pasti tergerogoti. Keindahan yang sebenarnya memang tak pernah tampak nyata. Karena disetiap sisinya pasti ada sepenggal rasa yang tak terbaca. Sungguh hanya mata hati yang benar-benar mengerti, betapa ketimpangan yang ada punya makna yang dapat dirasa. Dan hati ini punya sebuah kunci, dalam kesedihan dan kebahagiaan yang tak terperi.

Terkadang aku merasa hati ini sedikit lebih lelah dari biasanya, saat ketidakpastian yang terucap semakin nyata. Mungkin butuh waktu agak lama untuk memahami semua, bahwa rasa sakit itu tak seharusnya jadi dilema. Dan aku mulai bosan untuk sekedar basa-basi dengan mimpi yang mau atau tidak pasti terulang kembali. Aku mulai jenuh dengan kebohongan dan mencoba sok tegar untuk berada di atas keluguanku. Sampai suatu saat aku sadar, bahwa sesungguhnya aku hanya bisa berbohong pada orang lain dan diriku sendiri. Tanpa pernah bisa berbohong padamu lagi. Sejak saat itu.

Dan kadang ada beberapa hal yang tak pernah kuinginkan datang pada waktu yang tak semestinya. Sungguh, tapi hal itu bukanlah lelucon yang sebenarnya kubuat-buat hanya untuk mencari simpati. Seperti yang dulu pernah kau katakan bahwa kau lebih dari sekedar tahu, akupun setuju dengan pernyataan yang serupa, karena sungguh akupun tak pernah mengerti kenapa aku seperti ini. Dan semuanya mengalir tanpa pernah mau berhenti untuk sekedar istirahat, sejenak. Terlalu banyak waktu terbuang percuma untuk hal yang tak berharga harus dipertaruhkan, begitu selalu katamu. Meski tak pernah tertulis secara gamblang.

Ketika semua ketidak urutan ini mulai menjadi momok dalam hati, aku hanya meminta kesabaramu dalam mengawasiku. Sekedar mengawasi ketidaksempurnaan yang akan terjadi. Dan aku percaya, bahwa sesungguhnya tidak ada manusia yang sempurna seperti harapan. Hanya sebuah proses untuk menerima yang terkadang butuh kesabaran ekstra karena ia sungguh amat menjemukan. Tapi di sanalah hidup yang sebenarnya terjadi.

Kadang, aku merasa perlu sejenak kembali menekuri perjalanan hati yang sebenarnya. Bahwa hidup ini berada di tengah lautan manusia yang begitu rupanya tak pernah sama. Dan mungkin dari sana aku bisa belajar untuk kehidupan, bahwa mereka juga teman. Bahwa aku punya hak dan kewajiban untuk mereka. Sebenarnya. Mungkin aku sudah melantur kemana-mana lepas kendali dari masalah sebenarnya. Namun, tak apalah. Setidaknya sedikit keegoisanku terpampang di situ. Karena itu yang menjadi ciri khas selama ini. Atau mungkin memang seperti itulah yang terbaca, aku tak mengerti. Hanya mencoba memahami, karena aku tak pernah merasakan.

Atau sebenarnya aku harus mencoba kembali. Untuk mulai dari awal lagi. Mungkin sejenak aku harus mengingat sedikit ke masa silam, saat semua mimpi masih bergelantungan dengan indahnya. Kau pernah sekali waktu mendebatku, tentang teori kehidupan yang tak juga terpecahkan. Atau mungkin kita dulu sama-sama mengerti untuk tidak saling menyakiti, aku tak mengerti. Yang kutahu hanya masalah yang sebenarnya tak pernah dibesar-besarkan, cukup.

Lepas dari semua esensi rasa yang tak kunjung terbaca, aku bisa sedikit menyapa mereka dalam balutan tanda tanya. Karena apapun goresan yang kau torehkan di sekelilingku, semua membekas dengan sempurna. Tanpa sedikitpun ternoda. Dan kau tak perlu khawatir. Karena meskipun itu menyakitkan, pada akhirnya tetap menyenangkan. Dan aku hanya berharap suatu hal. Jika nanti kau lihat sesuatu yang lain dari yang segala topik yang pernah kita bincangkan. Sudilah kiranya sedikit berbagi. Dengan segala kemungkinan yang terjadi. Agar aku tahu, meski hanya sekedarnya. Meski hanya pokok dan intinya.

Lalu mungkin seperti yang sudah kukatakan sebelumnya. Aku tak mampu menyelesaikan semuanya. Karena memang ini belum berakhir. Masih jauh jalan yang harus kita tempuh. Masih banyak kata yang harus kita tulis. Dengan atau tanpa keinginan. Dan aku berjanji, cerita itu akan selalu ada. Disetiap lantunan do’a yang terbaca.

Dan sekali lagi aku mohon keikhlasanmu. Untuk segala salah dan khilafku. Semua ini hanya awalnya. Dan akan lebih banyak cerita selanjutnya. Saat kau lihat langit yang biru, disanalah sebenarnya harapanku. Meski mimpi-mimpi kusimpan rapi dibalik bintang yang berpijar, samudra langit tetap lebih indah untuk belajar kebijakan.

Angel... Tujuh tahun kau pilih aku untuk teman belajarmu, semoga kau tak pernah lelah untuk berbagi ilmu.

Malang-Tulungagung

Minggu, 17 Juli 2011
hmm.. selamat malam.

kutulis catatan ini saat aq menemukan cara untuk bersyukur atas apa yang telah Allah Berikan kepadaku. Saat semua mulai terungkap satu persatu, saat cerita itu membuat sedikit celah di kalbuku.

Dulunya aku selalu berfikir untuk percaya begitu saja oleh apa yang dilihat oleh mata, segala bunyi yang ditangkap oleh telinga, dan entah apa yang selalu terekam dalam hidupku.

Aku menghormati Ibuku, selalu, namun setiap apa yang ia ucapkan seakan tersaring oleh firewall yang membuatnya tak masuk dalam hatiku. Segalanya terdengar salah, setidaknya saat itu..

Saat aku melangkah pergi,. aku berfikir tentang ucapan ibu, tentang segala kebenaran yang ia sampaikan, dan nada amarah yang ternyata tak ku dengar. Mungkin hanya emosiku., yang selalu q lampiaskan pada ibu. karna satu-satunya orang yang tahu, dan mau memaafkan aku. Ibuku sabar, Kawan. Mungkin tak perti ibumu yang selalu memberikan apa yang kau pinta padanya, Ibuku memberi lebih padaku, dengan caranya. Namun Sungguh ibu, Aku dulu tidak suka caramu.


"Kamu ingat tentang kisah nabi musa dan nabi khidir ?? "
"Musa tidak dapat melihat apa yang dilihat oleh gurunya.... begitu juga saya "

dan ternyata.. 1-0 untuk Ibuku..